Jumat, 18 April 2014

materi ajar kelas Vll tentang akhlak tercela kepada allah swt

MATERI AKHLAK TERCELA KEPADA ALLAH SWT.
Agar kita terhindar dari sifat tercela yang dibenci dan dilarang oleh Allah SWT., maka kita harus mempelajari dan memahami tentang sifat-sifat tercela tersebut. Dan diantara sifat-sifat tercela tersebut diantaranya :
A. RIYA’
1. Pengertian Riya’
Sifat riya’ ialah salah satu sifat tercela sangat merugikan bagi yang memilikinya.Karena dapat menghapus pahala amal, atas perbuatan amal baik yang sudah dilakukan.Riya’ menurut bahasa artinya memperlihatkan/memamerkan.Sedang menurut istilah riya’ artinya suka memperlihatkan diri dalam berbagai perbuatan baik/amal ibadah .Selain sifat riya’ ada sifat tercela yang hampir sama dengan riya’.Yaitu sifat sum’ah.Sum’ah menurut bahasa berarti memperdengarkan.Dan menurut istilah sum’ah berarti suka memperdengarkan amal ibadah kepada Allah SWT,dengan harapan mendapatkan pujian dari oranglain.
Rosulullah SAW,bersabda “orang-orang yang sudah berbuat riya’ dan sum’ah disebut munafik.”(HR.MUSLIM)
2. Macam-macam riya’ & contohnya
§  Riya’ dalam agama dengan badan. Contohnya yaitu seseorang yang memperlihatkan kekurusan agar dikira orang yang rajin dalam beribadah.
§  Riya’ dalam tingkah laku.Contohnya yaitu orang yang menunduk dalam berjalan, memperlihatkan bekas sujud didahi,tenang serta kalem dalam gerakan.
§  Riya’ dalam ucapan.Contohnya seseorang yang menunjukkan kefasihannya dalammembaca AL-Qur’an , menggerakkan bibir saat berdzikir didepan umum.
§  Riya’ dengan amal.Contohnya ialah seseorang yang menyantuni anak yatim dihadapan orang banyak, agar dinilai sebagai orang yang dermawan.
3. Larangan Berbuat Riya’
Riya’ merupakan salah satu sifat tercela yang dilarang dalm agama Islam. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah: 264.
   
 
 
 
 
dan dalam Q.S. Al-Munafiqun : 1-3. 
 
 
 
 
 
 
 
70. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, 


264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir 
Ayat tersebut secara jelas telah melarang kita untuk berbuat riya’.
4. Akibat Buruk dari Sifat Riya’
§  Mendapat dosa besar,karena riya’ termasuk syirik
§  Menghapus pahala amal kebaikan.
5. Cara Menghindari Sifat Riya’
§  Berusaha mengendalikan diri agar tidak merasa bangga saat berbuat baik didepan orang lain.
§  Selau melatih diri untuk beramal.
§  Berusaha menahan diri agar tidak merasa kecewa.
§  T idak suka memuji kebaikan orang lain.
§  melatih diri untuk bersedekah.

B. NIFAK.

1. Pengertian Nifak
Nifak secara bahasa berarti berpura-pura.”lubang tikus dipadang pasir yang susah ditebak tebusannya”.
Sedangkan menurut istilah nifak artinya sikap yang tidak menentukan, yakni tak sesuai antara ucapan dengan perbuatan.Sebagaimana firman Allah SWT,dalam Surah Al-Baqarah : 14. 

14. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok. 

2. Ciri-ciri/bentuk-bentuk sifat nifak
§  Mengaku beriman,tetapi hatinya tetap dalam kekafiran. Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 8 

8. Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. 


1. Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. 


2. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. 


3. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. 

§  Jika berbicara suka berdusta,jika berjanji mengingkari,dan jika dipercaya,menghianati.
§  Jika bertengkar suaranya melewati batas.
§  Pandai bersilat lidah.
§  Bermuka dua dan suka mengobral janji.
§  Seseorang yang mengetahui bahwa ia beriman,tapi tidak pernah shalat.
§  Seoerang pelajar yang diberi uang untuk membayar SPP,tapi tidak dibayarkan.
§  Seorang pemimpin yang berjanji, tapi mengingkarinya.
3. Larangan Bersifat Nifak
Nifak merupakan sifat tercela yang dibenci oleh Allah SWT. tercantum dalam Q.S. Al-Ahzab : 70

4. Akibat Buruk/Kerugian dari Sifat Nifak.
a. Bagi diri sendiri:
§  Tercela dalam pandangan Allah SWT.
§  Tidak dipercaya oleh orang lain.
§  Tidak disenangi dalam pergaulan.
§  Mempersempit jalan untuk memperoleh rizki.
§  Selalu diliputi perasaan ragu.
§  Mendapat siksa kelak dihari akhir.
b. Bagi orang lain:
§  Dapat menimbulkan fitnah.
§  Mencemarkan nama baik keluarga.
§  Dapat menimbulkan kekecewaan hati.
5. Menghindari Sifat Nifak.
§  Menyadari bahwa nifak merupakan sifat tercela.
§  Menyadari bahwa nifak dapat merugikan diri sendiri.
§  M enyadari bahwa nifak tidak sesuai dengan hati.
§  Meyakini bahwa kejujuran dapat menentramkan hati.



RIYA
Riya adalah sifat suka menampilkan diri dalam beramal, agar amal tersebut dilihat orang dengan maksud ingin mendapat simpati atau pujian. Sum’ah adalah sifat suka menceritakan amal perbuatan agar didengar orang dengan maksud ingin mendapat simpati atau pujian. Jadi, riya dan sum’ah merupakan sifat tercela, kebalikan dari ikhlas.
Muhammad Al-Barkawi, seorang ahli tasawuf mengatakan, bahwa riya adalah mencari manfaat duniawi dengan cara menampilkan ukhrawi (akhirat) serta segala hal yang mencerminkan amal tersebut dan menampilakan itu sengaja dilakukan supaya dilihat orang lain. Orang yang memiliki sifat riya kemungkinan seorang abid (seorang yang suka ibadah), namun tujuan ibadahnya bukan untuk mencari ridho Allah, tetapi untuk memperoleh pujian dari orang lain.
Riya dan sum’ah adakalanya timbul karena ingin mendapat pujian, misalnya sering mengikuti shalat berjama’ah agar dinilai sebagai orang yang shaleh. Adakalanya pula timbul karena kekhawatiran akan mendapat celaan dari orang lain. Misalnya, membayar zakat karena takut dibilang kikir atau pelit. Baik karena ingin mendapat pujian atau karena kekhawatiran mendapat celaan, riya dan sum’ah adalah sifat tercela.
Orang-orang yang riya dan sum’ah juga tergolong orang-orang yang mendustakan agama sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maa’uun ayat 1-7 :
|

Artinya :
“ Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna ”.
Alangkah meruginya orang-orang yang bersifat riya dan sum’ah, karena mereka bersusah payah mengeluarkan tenaga, harta dan mengeluarkan waktu, tetapi Allah tidak menerima sedikitpun amal ibadah mereka, bahkan azab yang mereka terima sebagai balasannya. Firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 188:
Ÿ


Artinya :                                                                                                                                               
“ Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang Telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih ”.


Jumat, 03 Januari 2014

berbicara kepribadian dan fitrah dalam pandangan psikologi agama

kepribadian dan fitrah
perbedaan kepribadian dengan fitrah dalam diri seseorang pada kaitannya adalah sesuatu modal dasar untuk berprilaku ,dalam pandangan psikologi agama dipandang kepada kepribadian agama ,maka pada dasarnya dapat dibentuk menjadi manusia yang bertakwa kepada tuhan yang maha esa ,
kepribadian dan fitrah adalah bahan dasar untuk dikembangkan di lingkungannnya sendiri yaitu lingkungan mereka sendiri dalam prilaku sendiri , menjadikan modal untuk berprilaku dirinya sendiri . memaknai fitrah adalah keagamaan seseorang.
kenapa ada orang yang hateis,pada dasarnya manusia itu beragama dan agamanya satu ,setiap dulu kala islam  .sebenarnya islam itu bukan agama pemahaman saja.
fitrah itu manusia berasal dari fitrah  islam ,setiap orang yang lahir mereka sudah menjadi islam jikala orang diislamkan oleh orang tuannya .

jadi kepribadian dan fitrah seseorang dalam psikologi agama yaitu menjadikan seseorang berprilaku.

sumber : Drs.Nurhamzah ///Dosen Psikologi agama IAILM 2014


makalah psikologi agama tentang dzikir dan doa sebagai psikoterapi realigi

Doa dan Dzikir Sebagai Terapi Psikoreligius


brdoa-gf 
doa dan dzikir merupakan komitmen keimanan seseorang. Doa adalah permohonan yang dimunajatkan ke kehadirat Allah SWT. Dzikir adalah mengingat Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya.
Secara umum dzikrullah adalah perbuatan mengingat Allah dan keagungannya dalam bentuk yang meliputi hampir semua ibadah, perbuatan baik, berdoa, membaca Al Quran, mematuhi orang tua, menolong teman yang dalam kesusahan dan menghindarkan diri dari kejahatan dan perbuatan dzalim. Dalam arti khusus dzikrullah adalah menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya dengan memenuhi tatatertib, metode, rukun dan syarat sesuai yang diperintah oleh Allah dan rosulnya.
Dzikir dibagi tiga. Pertama, dzikir atas dzatnya, yakni pengucapan "laa ilaaha illallaah". Kalimat ini untuk menyeimbangkan dan menselaraskan hati dengan Sang Pencipta. Kedua dzikir atas ilmunya, yakni pengucapan Muhammadar Rosuulullah. Allah memberikan pengetahuan dengan perantaraan Rosul SAW. Melalui beliau dituturkan kepada yang berhak mendapatkan petunjuk. Ali R.A. adalah penghubungnya atau wasilah, sesuai hadits "Aku adalah kotanya ilmu, dan Ali adalah pintunya". Ketiga, dzikir atas af’al-Nya, yakni pengucapan "Fi kulli lamhatin wa nafasin Adada maa wasi’ahuu ‘Ilmullah (sebanyak kedipan dan nafas mahluk, serta seluas Ilmu Allah).
foto1 Pengungkapan dzikir tersebut merupakan kalimat tafakkur atas penciptaan Allah berupa gerak nafas dzikir seluruh mahluk-Nya baik yang tidak terlihat. Penghayatan dzikir ini sesuai dengan firman Allah "Yakni orang-orang yang berdzikir kepada Allah dengan berdiri, duduk dan berbaring dan bertafakkur tentang penciptaan langit dan bumi." (QS. Ali Imran: 191)
Konsep penghayatan dzikir tidak berhenti pada pengucapan dan pelantunan dzikir semata, tetapi sentuhan jiwa kepada Allah Yang Rahman dan Rahim menjadi cermin utama dalam menyikapi berbagai keadaan dalam kehidupan.
Allah SWT yang menjadi obyek pada saat kita dzikir akan berubah menjadi subyek, ketika perwujudan dan sifat-sifat Allah yang tampak pada setiap ciptaan-Nya mengambil tempat pada sikap dan perilaku yang berdzikir. Dengan bertafakkur pada kondisi demikian, kesadaran terhadap luasnya ilmu Allah akan tampak begitu nyata.
 
Dzikir kepada Allah bukan hanya semata-mata mengucapkan Asma Allah didalam lisan atau di dalam pikiran dan hati. Akan tetapi dzikir kepada Allah adalah doa1ingat kepada Asma, Dzat, Sifat dan Af’al-Nya. Kemudian memasrahkan kepada-Nya hidup dan mati, sehingga tidak ada lagi rasa khawatir, takut maupun gentar dalam menghadapi segala macam mara bahaya dan cobaan.
Berserah diri menjadi kata kunci dalam memasuki pengalaman untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Berserah diri tidak mungkin bila kita masih memiliki ego tentang diri kita masing-masing.
zikir Hati bagaikan cermin. Setiap kali kita melakukan dosa maka ibarat debu yang menempel pada cermin. Ketika hati kita sudah bersih, alampun menyambut dengan seluruh aliran energi yang ada di permukaannya. Pada akhirnya masalah bukan lagi hal yang menakutkan, akan tetapi justru menjadi bumbu yang harus diramu menjadi energi untuk hisup. Energi yang mengalir dengan benar maka akan membawa keselarasan dalam hidup kita. Energi yang kita alirkan pada arah yang keliru, akan menghasilkan kerusakan seluruh dimensi kehidupan kita.
Psikoterapi Dzikir dan Doa
Psikoterapi dzikir dan doa dapat dijadikan psikoterapi untuk pengobatan keguncangan jiwa, kecemasan dan gangguan mental. Dzikir dan doa adalah metode kesehatan mental. Dengan berdzikir dan berdoa orang akan merasa dekat dengan Allah SWT dan berada dalam perlindungan dan penjagaannya. Dengan demikian akan timbul rasa percaya diri, teguh, tenang, tenteram dan bahagia.
Tahap Psikoterapi Doa images1
1. Tahap kesadaran Sebagai Hamba
Pada tahap ini adalah tahap pembangkitan kesadaran. Kesadaran sebagai hamba dan kesadaran kelemahan manusia. Sebelum berdoa seorang hamba diharuskan untuk merendahkan diri kepada Allah. Pada kesadaran ini seseorang disadarkan akan gangguan kejiwaan atau penyakit sebagai bagian diri kemudian dimintakan kesembuhan kepada Allah.
2. Tahap Kesadaran Akan Kekuasaan Allah
Kesadaran akan kekuasan Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang memberi Kesembuhan akan sesuatu penyakit. Tahap ini menumbuhkan keyakinan kita kepada Allah atas kemampuan Allah dalam menyembuhkan.
3. Tahap Komunikasi
Berkomunikasi dengan Allah adalah suatu hal yang penting, tahap ini bisa berupa pengakuan dosa. Dengan hati yang bersih maka kontak dengan Allah akan lebih jernih.
Pengungapan kegundahan hati dan kesulitan yang dihadapi akan menumbuhkan rasa dekat dengan Allah.
Permohonan doa kesembuhan terhadap apa yang dialami, jangan memaksakan kehendak agar Allah mengabulkan.
Tahap menunggu dan diam, namun hati tetap mengadakan permohonan kepada Allah. Pada tahap ini kita pasrah kepada Allah dan mengikuti kemauannya Allah dan apa kehendak Allah. Maka dengan sikap ini diharapkan akan dapat menangkap jawaban Allah.
Proses Terapi Doa
1. Tumbuhkan niat dalam diri untuk disembuhan oleh Allah.
2. Rilekskan tubuh, kendorkan dari mulai kaki hingga kepala, jangan ada ketegangan otot.
3. Sadari kesalahan yang dirasakan, amati keluhan itu, ikuti dengan kesadaran bahwa kita lemah, tidak berdaya dan tidak memiliki kemampuan apa-apa.
4.Sadari kebesaran Allah melalui alam ciptaan-Nya, Dia yang memberi hidup dan mati, Dia yang memberi sembuh dan sakit.
5. Ungkapkan seluruh keluhan yang dirasakan kepada Allah.
6. Mintakan kesembuhn kepada Allah
7. Tetap rilek dan masih pada posisi memohon kepada Allah
8. Pasrah kepada Allah sertai dengan keyakinan bahwa Allah menjawab doa yang dipanjatkan.
9. (Menunggu jawaban doa, diam namun tetap ingat memohon kepada Allah)
Proses Relaksasi Dzikir untuk Mengobati Insomnia
1. Ambil posisi tidur telentang yang paling nyaman
2. Pejamkan mata dengan perlahan-lahan, jangan dipaksakan agar otot disekitar mata tidak tegang.
3. Lemaskan semua otot. Mulai dari kaki, betis, paha dan perut. Gerakkan bahu beberapa kali agar rileks.
4. Bernafas dengan wajar, dan ucapkan dalam hati frase yang akan diulang, umpamnya "Subhanallah".
Pada saat mengambil nafas ucapkan "Subhanallah" dalam hati, setelah selesai keluarkan nafas dengan mengucapkan "Allah" dalam hati. Sambil terus melakukan no, 4, lemaskan seluruh tubuh disertai dengan sikap pasrah kepada Allah. Sikap ini menggambarkan sikap pasip yang diperlukan dalam relaksasi, dari sikap pasip ini akan memunculkan efek relaksasi ketenangan yang luar biasa.

Rabu, 01 Januari 2014

rasanya malam pergantian tahun 2014

malam merenung di sudut rumah bibi yang gak jauh dari rumah ibu , meratap indahnya rembulan dilangit sana yang senantiasa menyinari malam kelabu , tetapi disana gemerlap keduniawian malam hamburkan uang demi hasrat keduniawian ,dengan letusan gemerlap kembang api yang beraneka ragamnnya .
keberuntungan bukan hanya dirasakan oleh beberapa orang ,bahkan disini keberuntungan itu tidak sedang dalam pandangan mata yang bisa dirasakan oleh saya pribadi .
malam pergantian tahun memang sudah cultural kebiasaan untuk dinikmati dengan menyambutnya dengan senang-senang padahal masih ada cara lain untuk menikmati malam pergantian tahun tersebut .
bisa karena orang tersebut boke ,yang menjadikan beliau tidak bisa menikmati malam pergantian tahn tersebt
next
to be countinous .....

Senin, 30 Desember 2013

keutamaan surat-surat dalam Al-Quran ''subhanalooh''

alqur'an adalah kalam allah swt yang luar biasa ,sistematika dan aturan hiduppun terdapat di dalam alhasil untuk kita bisa mendekatkan  diri kepada sang pemilik segalanya .coba kita bahas mengenai keutamaan surat-surat al-quran yang subhanalloh , sangat bermanfaat ,diantaranya adalah :

Keutamaan Surat Al-Wâqi’ah

Ubay bin Ka’b berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: 
“Barangsiapa yang membaca surat Al-Wâqi’ah, ia akan dicatat sebagai orang yang tidak tergolong pada orang-orang yang lalai.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5: 203).

Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: 
“Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah, ia tidak akan ditimpa kefakiran selamanya.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5: 203).

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: 
“Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah pada malam Jum’at, ia akan dicintai oleh Allah, dicintai oleh manusia; tidak akan  melihat kesengsaraan, kefakiran, kebutuhan, dan penyakit dunia. Surat ini adalah bagian dari sahabat Amirul Mukimin (sa) yang bagi beliau memiliki keistimewaan yang tidak tertandingi oleh yang lain.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5: 203).

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Barangsiapa yang merindukan surga dan sifatnya, maka bacalah surat Al-Waqi’ah; dan barangsiapa yang ingin melihat sifat neraka, maka bacalah surat As-Sajadah.” (Tsawabul A’mal: 117). 

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: 
“Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah sebelum tidur, ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan wajahnya seperti bulan purnama.” (Tsawabul A’mal: 117).

Keutamaan Surat Al-Fatihah

1.    Rasulullah SAW bersabda: 
 “Ketika Allah Azza wa Jalla hendak menurunkan surat Al-Fatihah, ayat Kursi, Ali-Imran 18, 26-27, surat dan ayat itu bergelantung di Arasy dan tidak ada hijab dengan Allah. Surat dan ayat itu berkata: Ya Rabbi, Kau akan turunkan kami ke alam dosa dan pada orang yang bermaksiat kepada-Mu, sementara kami bergelantung dengan kesucian-Mu. Allah SWT. berfirman:

“Tidak ada seorang pun hamba yang membaca kalian setiap sesudah shalat kecuali Aku karuniakan padanya lingkaran kesucian di tempat ia berada, dan Aku memandangnya dengan mata-Ku yang tersembunyi setiap hari tujuh puluh kali pandangan. Jika tidak, Aku tunaikan baginya setiap hari tujuh puluh hajat yang disertai pengampunan. Jika tidak, Aku melindungi dan menolong-nya dari semua musuhnya. Dan tidak ada yang mengha-langinya untuk masuk ke surga kecuali kematian.” (Tafsir Majmaul Bayan 1/426)


2.    Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT. berfirman: 
“Aku membagi surat Al-Fatihah antara Aku dan hamba-Ku, separuh untuk-Ku dan separuh lagi untuk hamba-Ku. Bagi hamba-Ku ketika ia bermohon dan membaca:  Bismillahir Rahmanir Rahim, Allah Azza wa Jalla menyatakan: “Hamba-Ku telah memulai dengan nama-Ku, maka berhaklah Aku untuk menyempurnakan urusannya dan memberikan keberkahan dari sisi-Ku untuk seluruh keadaannya.”
Ketika hamba-Ku membaca: Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, Allah Jalla jalaluh menyatakan: “Hamba-Ku telah memuji-Ku, mengakui bahwa semua nikmat yang dimilikinya berasal dari sisi-Ku, dan semua bala’ Aku yang menyingkirkan sehingga ia merasakan itu sebagai karunia. Maka, hendaknya kalian saksikan, Aku akan menjamunya dengan kenikmatan akhirat lebih dari kenikmatan dunia yang telah Kuberikan, dan menyingkirkan bala’ akhirat sebagaimana Aku telah menyingkirkan bala’ dunia.”
Ketika hamba-Ku membaca: Ar-Ramânir Rahîm, Allah Jalla jalaluh menyatakan: “Hamba-Ku telah bersaksi bahwa Aku Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kalian saksikan, Aku akan melimpahkan rahmat-Ku padanya dan mencurahkan karunia-Ku padanya.”
Ketika hamba-Ku membaca: Maliki yawmiddîn, Allah SWT. menyatakan: Kalian saksikan, sebagaimana ia telah mengakui Aku sebagai Raja pada hari kiamat, Aku akan memberikan kemudahan baginya yaitu amalnya tidak dihisab, dan Aku akan mengampuni semua kesalahannya.”
Ketika hamba-Ku membaca: Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’in, Allah Azza wa Jalla menyatakan: “Dia hanya memohon pertolongan kepada-Ku dan hanya bersandar kepada-Ku. Kalian saksikan, Aku akan menolongnya dalam segala urusannya, Aku akan melindungi-Nya dalam segala deritanya, dan Aku akan memegang tangannya saat ia membutuhkan pertolongan.”
Ketika hamba-Ku membaca: Ihdinash shirâthal mustaqîm ... (sampai akhir surat), Allah Jalla jalaluh menyatakan: Hamba-Ku telah bermohon pada-Ku, Aku pasti mengijabah permohonan hamba-Ku, memberikan apa yang diinginkan, dan menyelamatkannya dari apa yang ditakutkan.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1/5)

Keutamaan surat Al-Qadar
1. Rasulullah SAW bersabda
: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Qadar, pahalanya sama dengan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dan menghidupkan malam Al-Qadar.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5: 613).
2. Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:
“Tidak ada seorang pun hamba yang membaca surat Al-Qadar tujuh kali sesudah shalat Subuh, kecuali para malaikat ber-shalawat kepadanya 70 shalawat dan mencurahkan rahmat kepadanya 70 rahmat.” (Mafatihul Jinan: 79).
3. Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: 
“Barangsiapa yang membaca surat Al-Qadar dalam shalat-shalat fardhunya, malaikat memanggilnya: Wahai hamba Allah, Allah telah mengampuni dosamu yang lalu, maka mulailah amalmu yang baru.” (Tafsir Ats-Tsaqalayn 5: 612).
4. Imam Ali Ar-Ridha (sa) berkata:
“Barangsiapa yang berziarah ke kubur saudaranya yang seiman, kemudian ia meletakkan tangannya pada kuburannya sambil membaca surat Al-Qadar (7 kali), Allah menjamin baginya keamanan dari ketakutan yang paling besar.” (Tafsir Ats-Tsaqalayn 5: 613).
5. Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) menasehati para sahabat dan pengikutnya: 
“Barangsiapa yang sakit, hendaknya ia mengambil bejana yang baru, kemudian diisi air oleh dirinya sendiri, lalu membacakan pada air itu surat Al-Qadar secara tartil sebanyak (30 kali), kemudian air itu diminum, dibuat wudhu’ dan diusapkan pada bagian yang sakit, jika airnya kurang bisa ditambahkan. Jika hal itu dilakukan, insya Allah dalam waktu tiga hari Allah akan menyembuhkannya dari penyakit itu.” 
 (Tafsir Ats-Tsaqalayn 5/613).

Keutamaan surat Al-Ikhlash
1. Rasulullah SAW bersabda: ...
”Barangsiapa yang membaca surat Al-Ikhlash tiga kali,  ia seperti membaca seluruh Al-Qur’an.”  (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5: 702). 

2. Rasulullah SAW bersabda: 
“Barangsiapa yang melewati kuburan dan membaca surat Al-Ikhlash sebelas kali, kemudian ia menghadiahkan pahalanya kepada penghuni kubur, Allah SWT memberikan pahala padanya sejumlah penghuni kubur.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5: 702).
3.Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:  
“Barangsiapa yang membaca surat Al-Ikhlash sebelas kali sesudah shalat Subuh, maka pada hari itu ia tidak akan ditakutkan oleh dosa walaupun setan berusaha keras untuk menggodanya.” (Mafatihul Jinan: 77).
4.Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: 
“Aku mimpi melihat Hidhir (as) pada malam besoknya perang Badar. Aku berkata padanya: ajarkan padaku sesuatu yang dapat menolongku dari musuh-musuhku. Hidhir (as) berkata: bacalah: Yâ Huwa yâ Man lâ huwa illâ Huwa. Pagi harinya aku ceritakan kepada Rasulullah SAW. Kemudian beliau bersabda: “Wahai Ali, engkau telah mengetahui Ismul A’zham (nama Allah yang paling agung).” 
Kemudian Ismul A’zham itu mengalir di lisanku pada hari perang Badar. Perawi hadis ini mengatakan:  Imam Ali (sa) membaca surat Al-Ikhlash kemudian membaca:

يَا هُوَ يَا مَنْ لاَ هُوَ اِلاَّ هُوَ، اِغْفِرْلِي وَانْصُرْنِي عَلَى الْكَافِرِيْنَ

Yâ Huwa yâ Man lâ huwa illâ Huwa, ighfirlî wanshurnî ‘alal kâfirîn.
Wahai Dia yang tiada dia kecuali Dia, ampuni aku dan tolonglah aku menghadapi orang-orang kafir. (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5: 700)
5. Imam Ja`far Ash-Shadiq (sa) berkata: 
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan tinggalkan membaca surat Al-Ikhlash sesudah shalat fardhu, karena orang yang membacanya Allah akan menggabungkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya serta dosa anaknya”. (Mafatihul Jinan 478)
6. Imam Musa Al-Kazhim (sa)1) berkata: 
“Sangatlah banyak keutamaan bagi anak kecil jika dibacakan padanya surat Al-Falaq (3 kali), surat An-Nas (3 kali), dan surat Al-Ikhlash (100 kali), jika tidak mampu (50 kali). Jika dengan bacaan itu ia ingin mendapat penjagaan, ia akan terjaga sampai hari wafatnya.” (Mafatihul Jinan:  479)
__________
1) Imam Musa Al-Kazhim (sa) adalah putera Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husein bin Fatimah puteri Rasulullah SAW.


RAHASIA HARI DALAM ISLAM

Ngemengin tentang hari-hari itu tidak sama nilainya, ada yang baik untuk aktivitas tertentu dan tidak baik untuk aktivitas yang lain, dan ada juga hari yang APES (sial) sepanjang hari.

Allah swt berfirman: "Kami menghembuskan badai dalam beberapa hari yang nahas, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan di akhirat lebih menghinakan sedangkan mereka tidak diberi pertolongan." (Fushshilat/41: 16)

"Sesungguhnya Kami menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus." (Al-Qamar/54: 19).

Tentang hari-hari pilihan, Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata: "Hindarilah melakukan safar (bepergian) pada hari ketiga, keempat, ke 21 dan ke 25 setiap bulan, karena hari-hari itu adalah hari nahas." (Makarimul Akhlaq: 424). 

Beliau juga mengatakan:
  • Hari Pertama : Baik untuk menjumpai penguasa, mencapai hajat, jual-beli, bercocok tanam, dan bepergian.
  • Hari Kedua     : Baik untuk bepergian, dan mencapai hajat.
  • Hari Ketiga     : Buruk dan tidak baik untuk seluruh kegiatan
  • Hari Keempat : Baik untuk perkawinan, dan tidak disukai untuk bepergian.
  • Hari Kelima    : Buruk dan na'as.
  • Hari Keenam  : Diberkati, baik untuk perkawinan, dan mencapai hajat.
  • Hari Ketujuh  : Diberkahi, terpilih dan baik untuk segala yang diinginkan dan rencana usaha.
Perhitungan hari-hari dalam primbon ini berdasarkan kalender Hijriyah.
Selengkapnya silahkan download di halaman download eBook di Download

Minggu, 29 Desember 2013

DO'A

berbicara tentang doa baik itu dilihat dari orang yang senantiasa berdoa baik dari kalangan miskin dan kaya doa yang diijabah adalah doa yang benar-benar bertafakur dan melaksanakan perintah alloh swt ,
ada salah satu orang yang bertanya ''kalau saya berdoa sering kali yang saya ingat ketika saya ditimpa musibah saja'' sebenarnya keukeuh orang tersebut menganggap ketika doa yang sebenarnya adalah ketika berdoanya tersebut adalah ketika beliau mendapat musibah .
berbicara doa bisa intp pengertian doa dan fungsi doa itu .
DOA adalah memohon atau meminta pertolongan kepada Allah SWT. Akan tetapi bukan berarti hanya orang-orang yang sedang ditimpa musibah saja yang layak memanjatkan doa. Dalam keadaan segar-bugar dan tidak kekurangan suatu apa pun, sebagai manusia, kiranya kita layak berdoa. Setidaknya berdoalah memohon perkenan Allah SWT untuk mengampuni segala dosa-dosa, baik yang kita segaja maupun tidak. Juga meminta tetap diberi kekuatan iman dan kesehatan agar dapat melaksanakan segala perintah-Nya. Lalu memohon perlindungan-Nya dari gangguan setan dan hawa nafsu kita sendiri supaya tidak terjerembab dalam jurang maksiat.
Apalagi jika kita sadari bahwa situasi dan kondisi yang kita hadapi sehari-hari berputar bagai roda pedati. Mungkin saja hari ini kita bisa beribadah dengan baik dan ikhlas, namun siapa tahu hari- hari berikutnya kita didera rasa malas? Boleh jadi hari ini kita begitu bahagia, tetapi siapa tahu nasib kita pada esok atau lusa menjadi sebaliknya? Karena itulah dalam keadaan sebaik apa pun kita tetap perlu berdoa. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Tiada sesuatu yang paling mulia dalam -pandangan Allah, selain dari berdoa kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang." (HR. Al-Hakim).
Tentu saja dalam berdoa jangan memohon sesuatu yang menurut kita baik, padahal sesungguhnya buruk. Suatu misal karena sudah lama menderita sakit parah, karena merasa selalu tersiksa lalu kita memohon kematian. Bukankah seharusnya kita memohon kesembuhan. Nabi saw. juga melarang kita memohon mati. Abu Huroiroh ra. mengutarakan, Muhammad Rosulullah saw. bersabda, Sekali-kali janganlah kalian meminta mati. Jangan pula mendoakannya sebelum mati itu datang sendiri. Sebab jika kamu telah mati, maka berhentilah kalian beramal. Sesungguhnya bertambah panjang umur seorang mukmin, bertambah pula kebaikan yang dapat diperbuatnya". (HR. Muslim)
Allah SWT juga berjanji untuk mengabulkan doa para hamba- Nya. Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu." (QS. 40/Al- Mukmin: 60) "Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. (QS. 42/Asy- Syuro: 26)
Dalam hadits juga diungkapkan bahwa Allah SWT tidak akan menolak doa hamba-Nya. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah, Tuhan Yang Maha Hidup lagi Maha Mulia, merasa malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, lalu orang itu ditolak dengan kosong dan kecewa". (HR. Empat Ahli Hadits, kecuali Nasai dari Salman ra.)
Dengan demikian setiap doa pasti dikabulkan oleh-Nya. Bahkan ada tiga orang yang mendapat prioritas doanya segera dikabulkan.
Muhammad Rosulullah saw. menerangkan, "Ada tiga orang yang sekali- kali tidak akan ditolak doanya oleh Allah SWT, ialah orang yang sedang berpuasa sampai waktu menjelang berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya." (HR. Tirmidzi dari Abu Huroiroh ra.)
Jika doa-doa yang telah kita panjatklan belum terkabulkan, bukan berarti bahwa doa kita tersebut ditolak. Muhammad Rosulullah saw. bersabda: "Apabila seorang muslim menyungkurkan wajahnya (sujud) kepada Allah dalam memohon sesuatu, pasti Allah memberinya. Dan pemberian itu disegerakan atau menjadi simpanan di akhirat". (HR. Ahmad dari Abu Huroiroh ra.).
A. FUNGSI DOA
Doa merupakan unsur yang paling esensial dalam ibadah. Muhammad Rosulullah saw. bersabda: "Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah Taala dibandingkan doa". (HR. Ahmad, Bukhori, Tirmidzi dan Nasai) Sebab sebagaimana diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas ra., menurut Nabi saw. doa adalah ibadah karena:
a. mematuhi perintah Allah SWT, yakni firman-Nya: "Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkan doamu;
b. doa merupakan cermin menghambakan diri kepada Allah SWT; dan
c. pengakuan, bahwa hanya Allah SWT Yang Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak, sehingga hanya Dia-lah yang  dapat mengabulkan dan mewujudkan segala keinginan kita.
Ada beberapa keutamaan yang akan kita peroleh dalam berdoa.
1.  Allah menyertai hamba-nya yang berdoa. Muhammad Rosulullah saw. bersabda,"Sesungguhnya Allah  berfirman: Aku selalu dalam persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku selalu bersamanya ketika ia  berdoa kepada-Ku." (HR. Bukhori Muslim dari Abu Huroiroh ra)
2. Doa senjata orang mukmin. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Doa adalah senjata orang mukmin, dan  tiang agama, serta cahaya langit dan bumi". (HR. Hakim dari Ali bin Abi Tholib ra.)
3. Doa datangkan keselamatan. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Janganlah engkau merasa lemah untuk  berdoa, sebab sesungguhnya tidak seorang pun yang binasa selama ia tetap berdoa". (HR. Ibnu Hiban dan  Hakim dari Anas ra.)
4.  Doa menolak bencana, dan menolak tipu daya musuh. Muhammad Rosulullah saw. bersabda,"Doa berguna  terhadap apa saja yang telah menimpa seseorang, dan hal-hal yang  belum turun kepadanya. Sesungguhnya  bencana pasti akan turun, dan akan ditemui oleh, doa. Lalu keduanya selalu bersaingan sampai hari kiamat". (HR. Bazaar dan Thobroni dari Aisyah ra.) Maksudnya, bencana senantiasa mengintai manusia, dan semua  itu dapat ditolak hanya dengan doa.
Memanjatkan doa kepada Allah SWT, pertanda beriman kepada- Nya. Itulah sebabnya doa dikatakan sebagai tiang agama. Doa yang dipanjatkan oleh orang-orang beriman tersebut, jika diawali atau diakhiri dengan bacaan sholawat, akan dibawa naik oleh para malaikat. Maka tidak salah jika doa itu diibaratkan cahaya langit dan bumi.

Advertise
300x250
Here

Ads by sandi setiawan