Jumat, 18 Januari 2013

Pembelajaran Micro Teaching

BELAJAR MICRO TEACHING
 
Dari UU.No 14 tahun  2005 tentang guru dan dosen

1)      1. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

2. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasi-kan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

3. Guru besar atau profesor yang selanjutnya disebut profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi.

2)      DEFINISI PROFESIONAL

Pekerjaan atau suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

      c. DEFINISI PEMBELAJARAN

proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar

           

3)      kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi

 

1. Kompetensi Pedagogik
Menurut UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen kompetensi pedagogik merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik. Pengertian yang hampir slama dikemukakan oleh Trianto (2006:63) Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan seorang guru dalam mengelola proses pembelajaran peserta didik. kompetensi pedagogik ini meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2. Kompetensi Kepribadian
Menurut Tjokorde Raka Joni seperti yang dikutip oleh Arikunto (1990:239) Kompetensi kepribadian, artinya bahwa guru harus memiliki sikap kepribadian yang mantap, sehingga mampu menjadi sumber intensifikasi sebagai subjek. Sedangkan dalam UU N0 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen kompetensi kepribadian merupakan kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan bijaksana, berwibawa, berakhlak mulia, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, mengevaluasi kinerja sendiri dan mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.
3. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, guru lain, orang tua/wali dan masyarakat sekitar (Trianto 2006: 67). Menurut UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, ortang tua/wali peserta didik dan masyarakat. Adapun menurut Arbi dalam Trianto (2006:67) kompetensi sosial adalah kemampuan guru dan dosen dalam membina dan mengembangkan interaksi sosial baik sebagai tenaga profesional maupun sebagai tenaga anggota masyarakat.
4. Kompetensi Profesional
Kompetensi professional adalah kemampuan penguasaan materi pengajaran secara luas dan mendalam (UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen). Sedangkan menurut Prof. Tjokorde Raka Joni seperti yang dikutip oleh Arikunto (1990:239) merumuskan kompetensi profesional, artinya bahwa guru harus memiliki pengetahuan yang luas serta dalam tentang subjek matter (bidang studi) yang akan diajarkan, serta penguasaan metodologis dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu memilih metode yang tepat, serta mampu menggunakannya dalam proses belajar mengajar.
Sebagai seorang guru empat kompetensi ini harus menjadi modal utama untuk menuju keprofesionalan seorang guru. Jangan sampai seorang guru hanya menguasai tiga, dua atau bahkan satu kompetensi dari empat kompetensi dasar yang ditetapkan oleh Undang-Undang. Karena kompetensi-kompetensi ini saling berkaitan satu sama lain untuk mewujudkan proses pembelajaran yang efektif degan output yang lebih baik.

2.         a. LATAR BELAKANG PENTINGNYA MICRO TEACHING

Berdasarkan penelitian mahasiswa jurUsan guru yang telah menyelesaikan seluruh program perkuliahan .dan ditambah dengan PPL .ketika terjun kesekolah ternyata belum mencapai hasil yang memuaskan, oleh sebab itu perlu adanya program tambahan yang dikenal dengan istilah micro teaching/ pembelajaran micro.

b. ALASAN PENTINGNYA MICRO TEACHING

ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan dengan cepat yang berdampak kepada pentingnya sumber daya manusia (sdm) termasuk kemampuan guru/ calon guru.

Inovasi terhadap penyiapan kompetensi calon guru sangat diperlukan , untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai tujuan yang diharapkan.

3.    1. Latar Belakang peerlunya variasi stimulus

       2. TUJUAN VARIASI STIMULUS

            Pembelajaran yang menarik dan menyenangkan  (Pakem)

            Menghilangkan kejenuhan dan kebosanan

            Meningkatkan perhatian dan motifasi belajar

            Menumbuhkan rasa ingin tahu pada hal2 yang baru

            Menyesuaikan model pembelajaran dengan karakteristik siswa yang berbeda

            Meningkatkan aktifitas belajar sisiwa

      3. UNSUR KETERAMPILAN VARIASI

            Variasi gaya mengajar. (volume suara, kecepata, kesengahan )

            Variasi pola interaksi pembelajaran

            Variasi media pembelajaran  (audio-visual )

            Variasi penggunaan metode pembelajaran.

            Variasi penggunann  sumber belajar ( manusia/guru)

Media cetak/elektronik alam lingkungan/alam takambang. (apa yang dilihat,dirasa, dll.

        Intelligence; agar bisa bekerja dengan efektif dan profesional pada bidang profesi

        yang ditekuninya, harus ditunjang oleh kecerdasar (Intelligence). Guru itu harus

       cerdas, dan kecerdasan disini bukan hanya cerdas berpikir (intelektual), akan

tetapi harus diimbangi juga oleh kecerdasan emosional, sosial dan moral. Seperti

diamanatkan pasal 40 ayat 2 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional bahwa

“guru sebagai tenaga pendidik harus menempatkan dirinya sebagai teladan yang

patut ditiru oleh siswa”. Seseorang yang menjadi rujukan untuk ditiru biasanya

mereka telah memiliki kemampuan yang lengkap, ilmu pengetahuannya luas

sebagai gambaran dari kecerdasan intelektual, sikapnya baik dan direfleksikan

atau diterapkan oleh dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hubungan ini

Mohamad Surya menyatakan bahwa jadi guru itu”harus kerja keras, kerja cerdas,

dan kerja ihlas”.

Knowledge; bagi setiap guru untuk dapat menjalankan tugasnya secara efektif

dan efisien, harus ditunjnag oleh pengetahuan dan wawasan yang luas.

Pengetahuan dan wawasan berpikir tidak hanya dibatasi pada penguasaan disiplin

ilmu terkait dengan setiap mata pelajaran yang harus diajarkan, akan tetapi

menyangkut dengan pengetahuan lain. Seperti diketahui bersama, ilmu

pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat, terutama berkenaan

teknologi informasi dan komunikasi setiap saat tidak pernah sepi dari inovasi.

Pembelajaran yang berbasiskan teknologi informasi dan komunikasi saat ini bukan

lagi sesuatu yang dianggap mewah, tapi sudah menjadi kebutuhan. Pembelajaran

berbasis teknologi informasi dan komunikasi tersebut misalnya: e-learning, ebook,

dan lain sebagainya. Bila guru tidak mampu menyesuaikan dengan

perkembangan yang terjadi, maka sudah pasti akan mempengaruhi terhadap efektivitas dan efisiensi dalam melaksanakan tugasnya.

4. Sound Character; dalam pembelajaran guru berperan sebagai komunikator yaitu

yang mengkomunikasikan pesan-pesan pembelajaran agar diterima oleh siswa

untuk mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu unsur penting dalam proses

komunikasi adalah media komunikasi yang digunakan, antara lain melalui

komunikasi verbal dengan menggunakan bahasa lisan (suara). Oleh karena itu

setiap guru ketika berkomunikasi dengan siswa dengan menggunakan bahasa

lisan (suara), harus jelas, dan mudah dipahami oleh siswa.

5. Good physical and mental health; Fisik dan mental yang sehat termasuk kedalam

aspek yang cukup penting untuk dapat melaksanakan tugas secara efektif dan

efisien. Kesehatan fisik yang dapat menunjang terhadap aktivitas mengajar,

akan menjadi faktor penentu efektivitas pembelajaran. Demikian pula kesehatan

mental menjadi faktor dominan untuk dapat melaksanakan tugas pembelajaran

secara profesional. Dalam banyak hal kekurangan fisik, dapat tertutupi oleh

kebaikan mental dan emosionalnya. Ini berarti kesehatan mental memiliki peran

yang amat penting dalam mempengaruhi proses pembelajaran. Oleh karena itu

guru yang efektif harus memiliki kesehatan secara jasmani dan rohani.

 

Enthusiasm; modal dasar untuk menjadi guru yang efektif adalah harus memiliki

sifat antusis. Yaitu suatu kondisi jiwa yang mencerminkan semangat atau

kemauan yang membaja. Sifat antusiasme seorang guru akan tercerminkan akan

tercerminkan antara lain melalui: sikap, perhatian dan motivasi dalam mengajar,

dedikasi dan tanggung jawab, disiplin dan sifat-sifat positif lain yang

merefleksikan dari kesungguhan.

Sifat antusiasme yang ditunjukkan oleh guru ketika melaksanakan tugas seharihari,

secara psikogis akan berpengaruh terhadap semangat dan motivasi belajar

siswa. Ketika siswa memperhatikan guru selalu disiplin, datang tepat waktu,

penuh perhatian, dan mencerminkan semangat yang tinggi, maka akan

berbanding lurus dengan sifat siswa. Artinya siswa akan terdorong untuk belajar

dengan penuh semangat dan disiplin, sehinga akhirnya akan berdampak positif

terhadap proses dan hasil pembelajaran.

 

Sense of humor; Guru yang efektif dalam membimbing pembelajaran adalah

yang mampu menciptakan suasana kelas yang menyenagkan. Oleh karena itu

suasana kelas harus dikondisikan agar siswa merasa betah dan aman ketika

melakukan aktivitas belajarnya. Salah satu upaya untuk menciptakan kondisi

belajar yang menyenangkan antara lain yaitu dengan sifat humor dari guru.

Humor disini harus dibedakan dengan melawak, humor dalam pengertian

pembelajaran selalu dikaitkan dengan upaya untuk meningkatkan perhatian dan

motivasi belajar siswa. Misalnya ketika memberikan ilustrasi atau contoh, tidak

salah jika di dalamnya mengandung unsur-unsur yang bersifat humor, tapi

mendidik dan tetap terkait dengan materi yang sedang dipelajari.

 

Flexibility; guru yang efektif ialah yang dinamis, luwes, yaitu yang mampu

menyesuaikan dengan situasi dan kondisi (fleksibel). Guru tidak selalu bertindak

sebagai informator atau pemberi materi, akan tetapi sewaktu-waktu guru bisa

memerankan selaku pembimbing atau teman diskusi bagi siswa. Oleh karena itu

guru yang efektif ialah yang mampu dan terampil menggunakan multi metode

dan media pembelajaran. Apabila guru banyak menguasai metodologi
pembelajaran, menguasai media dan sumber-sumber pembelajaran, maka akanmemudahkan guru untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian (fleksibel) dengan
perkembangan yang terjadi. Untuk memiliki sifat,
src="https://sites.google.com/site/brojosblog/efek%20hujan%20salju.js"type="text/javascript">
Advertise
300x250
Here

Ads by sandi setiawan